Anak perempuan kecil yang malang ini memberitahuka...n ibunya,"Mama, aku baru saja melukis memakai lipstik mama".
Ibunya yang mendengar hal itu lalu melihat lipstik mahal yang baru saja
dibelinya telah tinggal setengah dan wajah dan tangan dan baju anak
perempuan telah belepotan dengan lipstik tersebut. Dengan sangat marah,
ibu itu mengamuk dan memukuli anak perempuan kecil yang malang tersebut
tanpa menghiraukan tangisan dan jeritan dari mulut kecilnya.
Kemudian setelah berhasil melampiaskan emosinya, ibu ini baru sadar
kalau anak perempuannya sudah gak bergerak lagi. Ia pun menguncangkan
tubuh anaknya sambil menangis dan memohon agar anak perempuannya membuka
matanya.
Tapi terlambat,..... jantung anak perempuan itu telah berhenti berdetak.
Dan saat sang ibu melihat ke seprei tempat tidur anaknya, disitu
tertulis sebuah tulisan dengan tinta lipstik merah yang tertulis: "Mama,
aku sangat mencintaimu".
blog ini memaparkan koleksi dari email entah dari sapa-sapa yang masuk mailbox aku. nak masukkan karya korang?? email ke skd2416@gmail.com, enjoy!!!
Thursday, October 6, 2011
Wednesday, September 28, 2011
Anak dan Ayahnya
Di suatu petang yg indah.. anak bertanya pada ayahnya…
Anak : Ayah, nak baju baru.
Ayah : 8A dulu.
Anak : Ayah, nak basikal baru.
Ayah : 8A dulu lah.
Anak : Ayah, nak handphone baru.
Ayah : 8A duluuu.
Anak : Ayah, nak jam tangan baru.
Ayah : 8A dulu.
Anak : Ayah…
Ayah : 8A dulu! Tak faham ke?
Anak : Errr… Nak mak baru.
Ayah : Bila nak??
Sunday, September 25, 2011
Tahukah Anda ketika kita berkata tidak?
Bahwa dalam hidup ada suatu perbuatan yang sia-sia tapi tak menghasilkan? Perbuatan itu adalah berusaha untuk selalu berkata “ya” untuk memuaskan orang lain. Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi sebuah cerita rakyat dari Eropa yang mengilustrasikan hal ini dengan sangat baik. Selamat membaca!
Di suatu pagi hari yang cerah, seorang penggiling tepung dan anaknya pergi untuk menjual hasil gilingannya ke kota. Anaknya menunggangi keledai sementara ayahnya berjalan di sisi keledai itu.
Di perjalanan mereka bertemu dengan seorang dari desa sekitar. Orang itu berkata “Kamu seharusnya malu dengan dirimu sendiri!” Katanya dengan nada merendahkan. “Kamu duduk dengan nyamannya sementara ayahmu yang sudah berumur harus berjalan. kamu tidak punya rasa hormat!” Dengan malu-malu, sang anak dan ayahnya saling menatap dan bertukar tempat dengan rasa malu.
Ketika mereka melanjutkan perjalanan, seorang tua menghardik mereka. Katanya “Bagaimana kamu ini? Duduk dengan nyamannya di atas keledai sementara anakmu kesulitan mengikutimu. Lihat!” Akhirnya sang ayah memutuskan untuk menunggangi keledai itu bersama dan melanjutkan perjalanan.
Tak lama kemudian, datanglah seorang wanita dari arah sebaliknya. Dia juga menemukan kesalahan pada pengaturan tersebut. “Aku tak pernah melihat kekejaman seperti ini! Kalian berdua terlalu berat untuk keledai yang malang tersebut. Dasar pemalas! Akan lebih pantas bila kalian berdua yang membawa keledai itu dan hasil gilinganmu.”
Karena tak ingin mengecewakan wanita itu, sang ayah memerintahkan anaknya untuk mengikat kedua kaki keledai tersebut. Sementara ia memotong sebuah batang yang panjang dan kuat untuk membawanya. Mereka berdua kemudian meyisipkan batang tersebut diantara kaki-kaki keledai yang kini sudah terikat. Mereka membawanya seperti orang suku yang baru mendapatkan tangkapan dan melanjutkan perjalanannya ke kota.
Ketika mereka menyebrangi sungai, keledai mereka ketakutan melihat pantulan dirinya di air sungai yang belum pernah dilihat sebelumnya. Keledai itu mulai meronta-ronta dengan sangat kencang dan menyebabkan kedua pemiliknya kehilangan kesimbangan dan melepaskan pegangan mereka.
Keledai itu terjatuh ke sungai dan tidak bisa berbuat apa-apa karena masih terikat. Singkat kata, keledai itu mati terseret arus air dan tenggelam. Sedangkan kedua pemiliknya hanya melihat dengan pasrah.
Moral of the story: After a moment of silent reflection, the father turned to the boy and spoke: “Son, we learned a valuable lesson today. We learned that when you try to satisfy everyone, you end up losing your ass*.”
Moral dari cerita: Setelah terdiam dan merenung beberapa saat, sang ayah berpaling ke anaknya dan berkata: Nak, kita mendapat pelajaran berharga hari ini. Kita belajar bahwa; ketika kamu berusaha untuk memuaskan semua orang, kamu akan merugikan diri sendiri.”
Thursday, September 22, 2011
hari jadi ke 17
|
Wednesday, September 14, 2011
sabo je lah
Ada 3 sekawan bernama Gaduh, Gila & Bendul. Ditakdirkan Gaduh hilang.
Bendul pun membuat laporan polis.
Bendul : Encik, I nak cari Gaduh.
Polis : Isk.. apa?? U ni Gila ke ?
Bendul : Uik mana Encik tahu kawan I Gila ?
Polis : Adoi. apa la si Bendul ni nak ?
Bendul : I mmg Bendul. Tapi saya nak cari Gaduh !
Polis : Sabor Je Lah...
Subscribe to:
Posts (Atom)

